Festival Golo Koe 2026: Merajut Sinergi Lintas Sektor untuk Pariwisata Labuan Bajo yang Berkelanjutan dan Inklusif

Labuan Bajo, 14 Juli 2026 – Gereja Keuskupan Labuan Bajo bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat secara resmi meluncurkan Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Asumta Nusantara 2026. Prestasi FGK yang secara konsisten masuk dalam 10 besar Kharisma Event Nusantara (KEN) selama dua tahun terakhir menjadi bukti suksesnya kolaborasi berbagai pihak dalam mempromosikan kekayaan budaya dan religi Manggarai Barat di level nasional.

Selanjutnya, Perhelatan tahun kelima ini ditegaskan sebagai ruang kolaborasi strategis untuk membangun sinergi antar-sektor dalam mengembangkan pariwisata Labuan Bajo yang bermartabat, menghargai budaya, dan merawat lingkungan. Sejalan dengan arah pastoral Keuskupan Labuan Bajo tahun 2026 yang berfokus pada “Persekutuan Sinergis”, Festival Golo Koe (FGK) menjadi instrumen nyata untuk menyatukan arah pembangunan pariwisata. Tema tahun ini, “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”, menekankan bahwa kemajuan pariwisata hanya dapat dicapai melalui kerja sama yang solid antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat lokal, dan Gereja.

Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menyatakan bahwa FGK adalah sebuah “oase spiritual” sekaligus ruang transformasi batin, sosial, dan ekonomi.

“Festival ini dilandasi oleh semangat kebersamaan dan dukungan kolaborasi lintas lembaga, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga komunitas kategorial dan pelaku UMKM,” ungkap Mgr. Maksimus.

Pilar Utama Pembangunan Pariwisata melalui FGK 2026

Dari pidato pada Hari Lingkungan Hidup sekaligus moment peluncuran Festival Golo Koe, Kamis 4 Juni 2026, dapat kami rangkum empat pilar utama pembangunan pariwisata yang didorong melalui penyelenggaraan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara sebagai berikut. Pertama, ekonomi yang inklusif dan berpihak pada rakyat. Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, memberikan instruksi tegas agar ruang ekonomi dalam festival benar-benar diprioritaskan bagi pelaku UMKM kecil, petani, dan nelayan lokal, bukan hanya dinikmati pelaku usaha besar. Targetnya adalah menciptakan bonum commune (kesejahteraan bersama) di mana masyarakat lokal aktif berpartisipasi dan menikmati kemajuan ekonomi dari status Labuan Bajo sebagai destinasi Super Prioritas.

Kedua, penghormatan pada budaya dan kerukunan Agama. FGK 2026 dirancang sebagai festival yang inklusif dan merangkul kemajemukan etnis serta agama dalam semangat persaudaraan. Pariwisata dimaknai sebagai “ziarah perjumpaan” yang berakar pada kearifan lokal dan spiritualitas setempat, namun tetap terbuka bagi semua orang di “rumah bersama” Keuskupan Labuan Bajo.

Ketiga, kesadaran ekologis dan keberlanjutan. Menanggapi krisis “kekacauan iklim” (climate chaos), FGK 2026 menyuarakan suara kenabian Gereja tentang pariwisata yang ramah lingkungan. Melalui tagline “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi”, panitia mewajibkan manajemen sampah yang baik, pengurangan plastik sekali pakai, serta aksi nyata penanaman pohon dan rehabilitasi terumbu karang.

Rangkaian kegiatan festival akan dimulai dengan Prosesi Maria Assumpta Nusantara mengunjungi 26 paroki (10 Juli – 5 Agustus) dan mencapai puncaknya pada 10 – 15 Agustus 2026 di Waterfront City Marina Labuan Bajo. Selama pekan puncak, pengunjung akan disuguhkan pameran ekonomi kreatif, pentas seni budaya, karnaval, hingga prosesi akbar laut dan darat.

Panitia mengajak seluruh elemen masyarakat—pemerintah, swasta, dan warga—untuk menjadikan Festival Golo Koe 2026 sebagai titik tolak pembangunan pariwisata yang harmonis antara manusia, budaya, dan alam ciptaan.

“Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi.”


Panitia Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Asumta Nusantara 2026

Kontak Media: Seksi Publikasi dan Promosi RD Heribertus Ratu (081398461957)

Loading

Yuk bagikan biar yang lain update seputar Festival Golo Koe!

More Posts

Road to Festival Golo Koe 2026 Sinergi Pemerintah, NGO dan Gereja Melalui Launching Proyek Bambu di Paroki Sok Rutung

Road to Festival Golo Koe 2026: Sinergi Pemerintah, NGO dan Gereja Melalui Launching Proyek Bambu di Paroki Sok Rutung

Seksi Lingkungan hidup Panitia Festival Golo Koe 2026 yang juga menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Vinsen Gande, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki momentum strategis karena bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Hari Laut Sedunia, dan Hari Mangrove Sedunia. Beliau memaparkan bahwa proyek ini difokuskan pada penanaman bambu dan aren di tiga desa, yaitu Pantar, Golo Lucan, dan Tanjung Boleng.

Uskup Labuan Bajo Buka Prosesi Maria Assumpta Nusantara 2026 di Paroki Lengkong Cepang: Kunjungan yang Mengubah Hidup

Penyambutan patung Maria Assumpta Nusantara berlangsung meriah dengan keterlibatan aktif masyarakat. Menariknya, perarakan ini tidak hanya diikuti oleh umat Katolik, tetapi juga melibatkan umat Muslim setempat, mencerminkan harmoni kehidupan beragama yang kuat di wilayah tersebut. Puncak acara penyambutan ditandai dengan Misa meriah yang dipimpin langsung oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus.

Festival Golo Koe dan Pariwisata yang Ramah Lingkungan

Festival Golo Koe mengangkat keutuhan ciptaan sebagai bagian dari tema yang diusung untuk tahun 2026.  Tema itu lengkapnya adalah “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”. Tema ini diangkat bertolak dari keprihatinan terhadap krisis lingkungan akhir-akhir ini yang ditandai dengan cuaca ekstrem dan bencana alam di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, Labuan Bajo dan sekitarnya sedang dibangun sebagai destinasi pariwisata super prioritas. 

Mari Mengikuti
Festival Golo Koe!

Langkahkan kaki dalam iman.
Menarilah bersama budaya.
Bersatulah dalam cinta dan kebersamaan.

Scroll to Top