LABUAN BAJO, 17 Agustus 2026 – Semangat kebinekaan dan ketakwaan mewarnai kawasan Waterfront City Marina hari ini melalui gelaran Karnaval Budaya dan Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara. Sebagai bagian dari rangkaian Festival Golo Koe 2026, acara ini menjadi panggung kolosal yang menampilkan wajah Labuan Bajo yang multi-etnis, beragam agama, namun tetap rukun dan toleran.
Karnaval Budaya tahun ini diikuti oleh total 1.584 peserta yang terbagi dalam 53 kontingen. Barisan parade dimulai dari depan RS Siloam hingga berakhir di pusat kegiatan Waterfront City. Berbagai elemen masyarakat terlibat aktif, mulai dari komunitas kategorial Gereja (paroki-paroki, WKRI, organisasi wanita Katolik), jajaran instansi pemerintah (Pemda Manggarai Barat, TNI, Polri, Kementerian Agama), hingga lembaga pendidikan dari tingkat TKK hingga SMA/SMK.
Daya tarik utama karnaval ini adalah kehadiran berbagai paguyuban etnis yang menampilkan kekayaan budaya nusantara, seperti tarian Kebalai dari Paguyuban Rote, atraksi Reog Ponorogo dari Paguyuban Jawa, tarian Weka dari Sumba, hingga tarian Dolo dari masyarakat Lamaholot. Kehadiran berbagai suku dan agama ini mempertegas peran Labuan Bajo sebagai “Rumah Bersama” yang harmonis. Selain sebagai ajang religi, karnaval ini juga diintegrasikan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81, yang terlihat dari semarak atribut merah putih di sepanjang barisan.
Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara
Puncak dari rangkaian karnaval adalah Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara yang dibawakan dengan apik oleh 550 siswa-siswi SMKS Stella Maris Labuan Bajo,. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bentuk devosi dan doa dalam gerak yang dipersembahkan kepada Bunda Maria,.
Secara filosofis, tarian ini menggambarkan sosok Maria sebagai ibu yang setia merangkul semua orang tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun golongan. Penampilan ini merefleksikan perpaduan antara iman Katolik dan budaya lokal Manggarai yang sangat menghargai kebersamaan, keberagaman, serta kelestarian alam.
Dalam pertunjukannya, para penari membentuk tiga formasi utama yang diangkat dari filosofi luhur masyarakat Manggarai:
- Formasi Lingko: Pola pembagian tanah adat berbentuk jaring laba-laba yang mencerminkan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya,.
- Formasi FGK 2026: Melambangkan identitas Festival Golo Koe tahun ini sebagai simbol persatuan.
- Formasi Rumah Gendang (Mbaru Niang): Lengkap dengan simbol Compang, formasi ini melambangkan pusat kehidupan, keadilan, dan kedaulatan masyarakat adat,.
Pertunjukan ini semakin megah dengan iringan musik inkulturatif, pembacaan puisi, serta deklamasi adat atau torok Manggarai. Lagu-lagu seperti “Manikmata Lonto Cama” karya Ivan Nestorman turut mengiringi gerakan para penari, menciptakan oase spiritual yang menggetarkan hati ribuan penonton yang memadati tribun Waterfront City.
Melalui sinergi budaya dan religi ini, Festival Golo Koe 2026 diharapkan dapat menjadi tempat untuk mewariskan nilai-nilai tradisi Manggarai kepada generasi muda sekaligus mempromosikan pariwisata yang berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal.
“Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi”
Kontak Person : Heribertus Ratu (0813984619570),
Seksi Publikasi dan Promosi Panitia Festival Golo Koe 2026
Website: festivalgolokoe.com
Link Live Youtube Karnaval dan Tarian Kolosal:
Kontent foto dapat didownload di sini



